Selamat Datang di SMA Negeri 2 Cikarang Utara, Jalan Raya Lemahabang Kec. Cikarang Utara Kabupaten Bekasi 17550

Kontak Kami


SMAN 2 CIKARANG UTARA

NPSN : 20253190

Jl Raya Lemahabang RT 009/02 Kec. Cikarang Utara Kab. Bekasi 17550


info@sman2cikut.sch.id

TLP : 021-89106357


          

Jajak Pendapat

Setelah lulus SMA saya akan
Kuliah
Kerja
Kuliah dan kerja
Menikah
Belum tahu
  Lihat
Bagaimana menurut Anda tentang tampilan website ini ?
Bagus
Cukup
Kurang
  Lihat

Statistik


Total Hits : 46293
Pengunjung : 12155
Hari ini : 38
Hits hari ini : 197
Member Online : 8
IP : 54.156.67.164
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Jurnal Penelitian Tindakan Kelas




“PENGGUNAAN LEMBAR ANALISIS MATERI PADA METODE DISKUSI PRESENTASI DALAM PENINGKATAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI DI KELAS XI MIA 3 SMA NEGERI 2 CIKARANG UTARA, TAHUN 2015.”

 

Agus Sudrajat

Guru Biologi SMA Negeri 2 Cikarang Utara, Kab. Bekasi-Jawa Barat.

 

ABSTRAK

 

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk membuktikan apakah ada peningkatan efektivitas pembelajaran biologi melalui metode diskusi presentasi yang dilengkapi dengan lembar analisis materi pada kelas XI MIA 3, SMAN 2 Cikarang Utara semester genap tahun pembelajaran 2014-2015.  Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan efektivitas pembelajaran, peneliti mengamati pada dua aspek penilaian, yaitu aspek proses dan aspek hasil.  Aspek proses digali dengan dua cara, yaitu penilaian yang dilakukan oleh guru dan penilaian oleh audien.  Penilaian yang dilakukan oleh guru ditujukan kepada semua  peserta didik terhadap proses pembelajaran.  Penilaian ini menggunakan Lembar Penilaian Proses.  Sedangkan penilaian audien ditujukan terhadap kelompok penyaji, dilakukan dengan menggunakan Lembar Evaluasi Materi.  Hasil penilaian kedua cara ini digabungkan dan dibagi dua untuk mendapatkan nilai efektivitas pembelajaran pada aspek proses.  Sementara itu aspek hasil dapat penulis gali dengan melihat nilai postes dengan cara melakukan tes tertulis dalam bentuk soal pilihan berganda (multiple chois), yang dilaksanakan pada akhir pembelajaran. 

Pembelajaran dikatakan efektif yaitu apabila telah mencapai target yang telah ditentukan.  Pada aspek proses, peneliti menyatakan efektif jika penilaian proses telah mencapai skore sebesar 80% atau lebih.  Sedangkan Aspek hasil dinyatakan efektif jika peserta didik yang mencapai KKM (nilai postes = 68) sekurangnya 75% dari jumlah seluruh peserta didik.

                Penelitian yang penulis buat ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan dilaksanakan dalam tiga siklus, dimana masing-masing siklus terdiri atas tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.  Setiap siklus dilakukan pada materi pokok yang berbeda, yaitu Sistem Respirasi, Sistem Ekskresi dan Sistem Saraf.  Pada Siklus I, pembelajaran  dilakukan dengan metode diskusi presentasi tanpa menggunakan Lembar Analisis Materi.  Sedangkan pada Siklus II dan Siklus III, pembelajaran penulis lakukan dengan metode diskusi presentasi yang dilengkapi Lembar Analisis Materi.  Pada akhir pembelajaran, kelas diberi soal-soal postes.  Hasil yang diperoleh, dianalisis untuk melihat seberapa banyak peserta didik yang telah mencapai nilai KKM. Dari ketiga siklus penelitian, diperoleh hasil sebagai berikut: Peningkatan efektivitas pada aspek proses adalah Siklus I sebesar 69,56%, Siklus II sebesar 82,29%% dan Siklus III sebesar 90,49%.  Sedangkan pada aspek hasil adalah Siklus I jumlah peserta yang telah mencapai KKM 45,71%  Siklus II: 77,14% dan Siklus III: 88,57%. 

Dengan demikian setelah melihat hasil dari kedua aspek yang penulis teliti pada siklus I, II dan siklus III, dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan efektivitas pembelajaran biologi pada aspek proses dan aspek hasil melalui metode diskusi presentasi yang menggunakan Lembar Analisis Materi, di kelas XI MIA 3, SMAN 2 Cikarang Utara. Kabupaten Bekasi.

Kata Kunci : Diskusi Presentasi, Efektivitas Pembelajaran, Lembar Analisis Materi

BAB I. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk memperbaiki kwalitas (mutu) pendidikan.  Salah satu dari kegiatan tersebut adalah menciptakan kurikulum yang paling sesuai dengan tujuan yang diharapkan, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.  Maka terciptalah kurikulum pendidikan terbaru yang disebut sebagai “Kurikulum 2013”. Kurikulum yang menerapkan konsep penciptaan peserta didik berkarakter ini, juga menerapkan pendekatan pembelajaran yang berspusat pada siswa (student center).  Dimana siswa mendominasi proses pembelajaran, guru hanya bertindak sebagai pembimbing, observer dan pasilitator dalam kegiatan pembelajaran.

Berkaitan dengan hal di atas, dalam kegitan pembelajaran sehari-hari, penulis sering menggunakan metode diskusi presentasi.  Alasannya bahwa metode ini mudah untuk dilakukan, sangat cocok untuk pembelajaran dengan model belajar berkelompok (cooperative learning), melatih peserta didik untuk melaksanakan pembelajaran dengan prinsip student center, serta banyak mengeksplorasi kemampuan peserta didik baik dalam ranah pengetahuan (kognotif), keterampilan     (psikomotorik) dan sikap (apektif).   

Sebelum melakukan presentasi, penulis  menugaskan kepada calon kelompok penyaji untuk membuat ringkasan materi dalam bentuk slide show power point.  Dalam kegiatan penugasan ini, penulis secara langsung memberikan arahan terhadap materi apa yang harus mereka sajikan, tanpa menuliskan tujuan apa yang hendak dicapai oleh peserta didik dan tanpa membuat panduan kerja bagi mereka.  Namun sayang metode yang sering penulis gunakan ini tidak efektif, beberapa masalah muncul ketika penulis menggunakan metode diskusi presentasi ini.  Masalah yang berhasil penulis identifikasi diantaranya:

  • Peserta didik yang lulus dari KKM sangat sedikit, kurang dari 50%. KKM mata pelajaran biologi di SMAN 2 Cikarang Utara sebesar 68, atau setara dengan huruf (B-).
  • Proses pembelajaran tidak efektif, peserta didik tidak berani mengemukakan pendapatnya, bertanya maupun menjawab pertanyaan.

Melihat adanya kelemahan-kelemahan pada metode pembelajaran yang sering penulis gunakan ini, maka timbulah gagasan dalam diri penulis untuk mencari solusinya.  Penulis berusaha mencermati permasalahan apa yang sebenarnya dihadapi oleh peserta didik serta mencoba mencari penyebabnya.  Penulis menemukan beberapa catatan yang diduga sebagai penyebabnya, catatan tersebut antara lain:

  • Materi yang ditampilkan oleh kelompok penyaji tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan dalam RPP
  • Tampilan slide show yang digunakan untuk presentasi tidak menarik perhatian audien
  • pembelajaran didominasi oleh peserta didik yang pandai, sehingga komunikasi tidak menyebar
  • Pembelajaran terlihat membosankan, banyak siswa yang bersifat pasif.
  • Audien merasa jenuh kerena mereka hanya bertindak sebagai pendengar saja.

Dari hasil catatan-catatan yang berhasil penulis amati tersebut, akhirnya penulis mencoba untuk menggunakan suatu instrument yang diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan di atas.  Instrumen tersebut berupa panduan belajar yang diberi nama Lembar Analisis Materi.

Selanjutnya penulis perlu ungkapkan bahwa permasalahan yang ingin penulis ketahui adalah sejauh mana pemberian lembar analisis materi dapat berpengaruh pada peningkatan efektivitas pembelajaran.   Dimana efektivitas pembelajaran itu sendiri meliputi aspek proses dan aspek hasil. Oleh karena itu peningkatan efektivitas pembelajaran yang ingin penulis ketahui pun berkaitan dengan aspek proses dan aspek hasil pembelajaran.  

Berdasarkan masalah yang ingin penulis ungkap di atas, maka PTK ini oleh penulis diberi judul: “PENGGUNAAN LEMBAR ANALISIS MATERI PADA METODE DISKUSI PRESENTASI DALAM PENINGKATAN EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN BIOLOGI DI KELAS XI MIA 3 SMA NEGERI 2 CIKARANG UTARA, TAHUN 2015.”

  1. Rumusan Masalah
  2. Apakah penggunaan lembar analisis materi pada metode diskusi presentasi dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran biologi pada aspek proses, di kelas XI MIA 3?
  3. Apakah penggunaan lembar analisis materi pada metode diskusi presentasi dapat meningkatkan efektivitas pembelajaran biologi pada aspek hasil, di kelas XI MIA 3?
  4. Tujuan Penelitian
  5. Untuk mengungkap dan menganalisis secara empiris apakah ada peningkatan efektivitas pembelajaran biologi melalui metode diskusi presentasi yang dilengkapi dengan lembar analisis materi di kelas XI MIA 3, baik pada aspek proses maupun pada aspek hasil.
  6. Menambah pengetahuan penulis tentang berbagai tehnik dan pengetahuan yang berkaitan dengan Penelitian Tindakan Kelas.
  7. Manfaat Penelitian
  8. Pemberian lembar analisis materi pada metode diskusi presentasi dapat dijadikan sebuah pilihan bagi para guru biologi yang mengajar di kelas XI MIA yang merasa kesulitan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didiknya. Terutama pada materi pokok Sistem Respirasi, Sistem Ekskresi dan Sistem Saraf.

BAB II.  KAJIAN TEORI DAN PUSTAKA

  1. Teori
  2. Efektivitas Pembelajaran
  3. Efektivitas

Menurut Sedarmayanti (2004 : 61) berpendapat bahwa “Efektivitas adalah suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat tercapai.” Ini bermakna bahwa efekivitas adalah ukuran yang digunakan untuk melihat sejauh mana target yang ditetapkan dapat tercapai.   Sementara itu Ahmadi dan Rohadi (2006 : 28), menyatakan “Efektivitas adalah tepat guna, yaitu suatu pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan waktu yang cukup sekaligus dapat membuahkan hasil secara lebih tepat”.  

  1. Pembelajaran

Menurut Jeanne Ellis Ormrod bahwa “Pembelajaran sebagai perubahan jangka panjang dalam representasi atau asosiasi mental sebagai hasil dari pengalaman.  Definisi ini terbagi menjadi tiga bagian.  Pertama, pembelajaran adalah perubahan jangka panjang, yaitu lebih sekedar penggunaan informasi secara singkat dan sambil lalu (misalnya mengingat nomor telepon hanya beberapa saat guna menghubungi nomor tersebut), namun tidak selalu tersimpan selamanya.  Kedua, pembelajaran melibatkan representasi atau asosiasi mental, yaitu entitas dan interkoneksi internal yang menyimpan pengetahuan dan keterampilan baru yang diperoleh.  Ketiga, pembelajaran adalah perubahan yang dihasilkan dari pengalaman.”

  1. Efektivitas pembelajaran

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa efektifitas pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan tingkat keberhasilan suatu proses pembelajaran  dalam mencapai tujuan pembelajaran.  Batasan efektivitas pembelajaran yang penulis maksud dalam penelitian ini adalah dengan melihat dua aspek, yaitu aspek hasil belajar dan aspek proses.    

  1. Metode Diskusi-Presentasi
    1. Pengertian Metode Diskusi

Girlstrap dan Martin (1975) dalam Mudjiono (1992) metode diskusi adalah suatu kegiatan dimana sejumlah orang membicarakan secara bersama-sama melalui tukar pendapat tentang suatu topik atau masalah, atau untuk mencarai jawaban dari suatu masalah berdasarkan semua fakta yang memungkinkan untuk itu.

Metode diskusi adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa-siswi dihadapkan kepada suatu masalah, yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematik untuk dibahas dan dipecahkan bersama.  (Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain:2006)

  1. Pengertian Presentasi

Presentasi adalah suatu kegiatan berbicara di hadapan banyak orang (audien) atau salah satu bentuk komunikasi. Presentasi merupakan kegiatan pengajuan suatu topik, pendapat atau informasi kepada orang lain. Berbeda dengan pidato yang lebih sering dibawakan dalam acara resmi dan acara politik, presentasi lebih sering dibawakan dalam acara bisnis.

Menurut Rina Puspita Dewi (2010:54) presentasi merupakan salah satu bentuk komunikasi kepada publik merupakan seni untuk menginformasikan, meyakinkan, membujuk, menginspirasi, dan menghibur audiensi.

  1. Lembar Analisis Materi

Pada dasarnya Lembar Analisis Materi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebuah Lembar Kerja Siswa (LKS).  Oleh karena itu definisi lembar analisis materi yang penulis gunakan dalam penelitian tindakan kelas ini pun disesuaikan dengan definisi LKS yang telah dikemukakan oleh para ahli.  Depdiknas menyatakan bahwa LKS adalah lembaran yang berisikan pedoman bagi siswa untuk melaksanakan kegiatan yang terprogram. Lembaran ini berisi petunjuk, tuntunan pertanyaan dan pengertian agar siswa dapat memperluas serta memperdalam pemahamannya terhadap materi yang dipelajari. Sehingga dapat dikatakan bahwa LKS merupakan salah satu sumber belajar yang berbentuk lembaran yang berisikan materi secara singkat, tujuan pembelajaran, petunjuk mengerjakan pertanyan-pertanyaan dan sejumlah pertanyaan yang harus dijawab siswa.

Lembar analisis materi yang penulis buat pada penelitian ini dibedakan menjadi dua macam, yaitu kartu standar materi dan lembar evaluasi materi.  Kartu standar materi diberikan kepada kelompok penyaji dengan maksud  sebagai panduan bagi mereka untuk mencari dan memasukan materi-materi penting untuk dikuasai, yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan oleh guru dalam RPP.  Sedangkan lembar evaluasi materi diberikan kepada keolompok audien (bukan penyaji) dengan maksud untuk memudahkan mereka dalam memahami uraian materi yang disampaikan oleh kelompok penyaji.  Selain itu lembar evaluasi ini digunakan oleh audien untuk menilai kesesuaian antara materi yang ditampilkan oleh kelompok penyaji dengan ringkasan materi yang ada pada lembar evaluasi materi tersebut.  Sebab pada lembar evaluasi materi, selain terdapat tujuan pembelajaran dan ringkasan materi, juga terdapat kolom indikator yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh audien.  Dimana jawaban tersebut dapat mereka sampaikan dengan cara memilih skore (0, 1 dan 2) yang ada pada kolom skore lembar evaluasi materi tersebut.  .

  1. Argumen Peneliti

Salah satu faktor penentu keberhasilan pembelajaran adalah guru.  Gurulah yang dapat menciptakan situasi, apakah pembelajaran itu menarik perhatian peserta didik atau tidak.  Seorang guru dengan berbagai kompetensi atau kemampuan yang dimilikinya dituntut harus mampu mengelola kelas seefektif mungkin.  Dia harus pandai mempersiapkan strategi pembelajaran yang bagaimanakah yang paling tepat untuk  dilaksanakan pada kelas yang akan dimasukinya.  Berikut ini adalah beberapa hasil pemikiran penulis tentang strategi yang harus dilakukan oleh guru ketika akan melaksanakan pembelajaran, setelah penulis membaca teori-teori yang telah disampaikan di atas:

  • Guru harus cermat dalam merumuskan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dalam RPP yang Dibuat. Maksudnya dia harus melihat sejauh mana kemampuan dasar peserta didik yang akan diberi pembelajaran serta melihat faktor pendukung lainnya.
  • Guru harus pandai memilih metode apa yang kiranya dapat dia pergunakan secara tepat untuk menyampaikan materi yang akan dipelajari oleh peserta didik. Mengingat bahwa setiap materi memiliki karakter dan tingkat kesulitan tersendiri. 
  • Gunakan instrument yang dapat memandu peserta didik dalam belajar.
  • Mengevaluasi hasil belajar peserta didik. Hal ini dilakukan agar peserta didik mempunyai tanggung jawab/kewajiban bahwa pada akhir pembelajaran mereka akan dievaluasi.  Sehingga dia akan berusaha untuk mengikuti pembelajaran secara lebih sungguh-sungguh.
  1. Kerangka Berpikir

Dalam proses pembelajaran sehari-hari kita sebagai guru sering menugaskan kepada peserta didik untuk mempresentasikan hasil belajar mereka dengan metode diskusi presentasi.  Namun sayang pada saat pemberian tugas, biasanya guru hanya memerintahkan kepada peserta didik untuk mempelajari  materi pelajaran yang akan dibahas dan memerintahkan kepada mereka agar membuat catatan-catatan sebagai bahan yang akan dipresentasikan.  Tanpa memberikan panduan yang dapat menjadi petunjuk bagi mereka untuk melaksanakan presentasi tersebut.  Guru tidak menampilkan tujuan apa yang ingin dicapainya atau batasan-batasan materi apa saja yang seharusnya dipresentasikan oleh peserta didik.  Sehingga sering kali terjadi ketidaksesuaian antara tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh guru dengan materi yang disampaikan oleh kelompok penyaji. 

Selain itu peserta didik yang tidak bertugas sebagai penyaji mereka akan bersifat pasif, karena hanya bertindak sebagai pendengar saja.  Mereka tidak memiliki panduan belajar.  Mereka tidak mengatahui materi apa yang sebenarnya diinginkan oleh guru untuk dikuasai oleh mereka.  Hal ini tentunya berpengaruh terhadap daya serap peserta didik dalam memahami materi yang dipresentasikan itu.  

Tidak adanya panduan belajar pada saat dilakukan pembelajaran dengan metode diskusi presentasi ini, membuat peserta didik merasa kesulitan dalam melaksanakan tugasnya, baik sebagai penyaji maupun sebagai audien.  Meteri pelajaran yang seharusnya mereka kuasai malah menjadi beban yang dapat membingungkan mereka, pembelajaran menjadi tidak efektif.  Hal ini tentunya dapat berpengaruh pada hasil evaluasi yang akan dilakukan.  Dimana guru akan membuat soal-soal yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah direncanakan dalam RPP.

Berbeda halnya dengan ketika guru menggunakan lembar analisis materi.  Peserta didik dirancang untuk belajar sesuai dengan panduan lembar analisis materi yang telah dibuat oleh guru tersebut.  Mereka diharapkan akan merasa lebih mudah untuk melakukan pembelajaran, baik mereka yang bertugas sebagai kelompok penyaji maupun mereka yang menjadi kelompok audien. Karena masing-masing mereka diberi panduan dalam belajar, yaitu bagi kelompok penyaji diberikan kartu standar materi dan kelompok bukan penyaji (audien) diberi lembar evaluasi materi, sedangkan guru memegang lembar penilaian proses sebagai panduan untuk pengamatan proses pembelajaran yang sedang dilakukan.  Pada pembelajaran ini guru dengan jelas menyampaikan tujuan pembelajaran yang dia inginkan dan memberikan batasan-batasan materi apa saja yang harus dikuasai oleh peserta didik yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran tersebut.  Dengan demikian diharapkan seluruh peserta didik dapat menyerap materi pelajaran yang sedang dipelajari, yang pada akhirnya akan berpengaruh positif terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran.

BAB III.  METODELOGI PENELITIAN

Penelitian tindakan kelas yang penulis lakukan ini dilaksanakan pada tiga materi pokok yang berbeda, yang dilakukan  dalam tiga siklus penelitian, dengan materi yang berbeda, yaitu system respirasi, system ekskresi dan system saraf.

Penelitian masing-masing siklus dilaksanakan melalui 4 tahapan, yaitu  (1) perencanaan penelitian; (2) pelaksanaan tindakan; (3) observasi/ evaluasi; dan (4) refleksi.  Pelaksanaan penelitian tindakan kelas pada setiap siklus adalah sebagai berikut:

  1. Perencanaan

Kegiatan yang dilakukan pada bagian ini adalah (1) membuat Rencana Program Pembelajaran (RPP) setiap materi pokok yang akan dijadikan sebagai materi yang akan dipelajari pada setiap siklus penelitian.  (2) menyusun instrument yang dibutuhkan  (3) membuat soal-soal yang akan digunakan pada saat pretes dan postes.  (4) memberikan arahan-arahan kepada peserta didik terhadap penggunaan instrument yang digunakan.

  1. Pelaksanaan Tindakan

Pembelajaran dilaksanakan dengan mengacu pada prinsip student center, menggunakan metode diskusi presentasi yang dilakukan oleh peserta didik sebagai kelompok penyaji.  Peneliti (guru) melaksanakan tindakan dengan dibantu oleh teman sejawat sesama guru biologi.  Teman sejawat tersebut berfungsi sebagai observer yang memberikan masukan-masukan terhadap kekurangan yang terjadi pada saat proses pembelajaran.

Pelaksanaan tindakan yang dilakukan pada setiap siklus penelitian mengacu pada scenario yang dibuat oleh peneliti (guru) pada kegiatan pembelajaran dalam RPP.  Dimana kegiatan pembelajaran dibagi menjadi tiga kegiatan,yaitu kegiatan awal, kegiatan inti dan menyimpulkan pembelajaran serta melakukan refleksi yang dilakukan pada akhir kegiatan pembelajaran.

  1. Observasi/Evaluasi

Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah (1) mencatat pertanyaan yang diajukan oleh audien, (2) melakukan penilaian proses terhadap kegiatan pembelajaran, (3) mencatat hal-hal penting selama proses pembelajaran dan juga kekurangan-kekurangan yang ditemukan, (4)  mencatat skore hasil penilaian audien melalui lembar evaluasi materi, (5) melakukan postes.

  1. Refleksi

Refleksi dilakukan pada setiap akhir pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengkaji atau menganalisis segala temuan pada saat tindakan, baik hasil tes tulis, hasil penilaian proses yang dilakukan oleh guru, hasil observasi yang dilakukan oleh teman sejawat,  hasil pengamatan terhadap hal-hal penting yang terjadi selama proses tindakan, dan juga mengumumkan perolehan nilai bagi kelompok penyaji.  Hasil refleksi siklus I digunakan sebagai dasar perbaikan dan penyempurnaan perencanaan dan pelaksanaan tindakan pada siklus II.  Demikian juga dengan siklus ke II refleksinya akan menjadi penyempurna bagi siklus ke III.

  1. Subjek Penelitian

Peserta didik yang menjadi subjek penelitian adalah kelas XI MIA 3 SMA Negeri 2 Cikarang Utara-Kabupaten Bekasi.  Jumlah peserta didik sebanyak 35 orang.  Penelitian ini dilakukan pada semester 2, yaitu bulan Januari 2015 sampai dengan bulan Maret 2015.  Pelaksanaan penelitian dilakukan ketika penulis menyampaikan proses pembelajaran di kelas.    

  1. Jenis Instrumen dan Penggunaannya

Instrumen yang penulis gunakan dalam penelitian ini ada dua jenis, yaitu jenis tes dan jenis observasi.

  1. Tehnik Tes (test)

Tehnik tes ini penulis gunakan untuk melihat efektivitas pembelajaran dalam aspek hasil belajar.  Penulis melakukannya dengan cara memberikan soal-soal dalam bentuk pilihan berganda (multiple chois) sebanyak 10 soal yang diberikan pada saat postes.  Untuk jawaban yang benar diberi skore 1 dan untuk jawaban yang salah diberi skore 0.  Skore total yang dimiliki peserta didik adalah jumlah jawaban benar atas seluruh pertanyaan yang diberikan dikalikan dengan angka 1.  Selanjutnya skore mentah ini dirubah menjadi nilai jadi menjadi angka dalam bentuk puluhan.  Nilai jadi inilah yang digunakan untuk menunjukan apakah efektivitas pembelajaran pada aspek hasil telah tercapai atau belum.   Rumus yang digunakan adalah:

 

                               Jawaban benar

        Nilai Jadi =                                   x 100

                               Jumlah soal

 

  1. Tehnik Observasi (pengamatan)

Kegiatan observasi dilakukan secara langsung oleh penulis  untuk mengukur sejauh mana efektivitas pembelajaran pada aspek proses.  Hasil observasi yang penulis gunakan untuk menilai aspek proses ini berasal dari dua sumber, yaitu sumber yang berasal dari penilaian guru dan sumber yang berasal dari penilaian audien (peserta didik yang bukan kelompok penyaji). 

Instrumen yang digunakan oleh guru adalah Lembar Penilaian Proses, sedangkan yang digunakan oleh audien adalah Lembar Evaluasi Materi.  Masing-masing hasil penilaian dari kedua sumber ini selanjutnya dirubah dalam bentuk persen (%) untuk mendapatkan nilai mentah.  Kemudian kedua nilai mentah tersebut digabungkan dan dibagi dengan dua untuk mendapatkan nilai jadi.  Nilai jadi inilah yang digunakan untuk menunjukan apakah efektivitas pembelajaran pada aspek proses telah tercapai atau belum.

  1. Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini dikelompokan menjadi dua macam, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif.  Data kuantitatif digali dengan cara menggunakan tehnik tes, yaitu dengan melakukan postes pada akhir kegiatan pembelajaran.  Sedangkan data kualitatif digali dengan cara melakukan pengamatan (observasi), yaitu pengamatan yang dilakukan oleh guru dan pengamatan yang dilakukan oleh audien (peserta didik yang bukan kelompok penyaji).

  1. Tehnik Analisis Data

Tehnik analisis data yang penulis gunakan pada penelitian ini adalah tehnik deskriptif analitik, dengan penjelasan sebagai berikut: 1) data kuantitatif diperoleh dari hasil postes  2) data kualitatif diperoleh dari pengamatan yang dilakukan oleh guru dan audien.  Kedua data tersebut dijadikan dalam bentuk persentase (%), selanjutnya dianalisis dengan menggunakan deskripsi persentase.  Tehnik ini penulis gunakan untuk menjelaskan makna nilai persentase yang didapat untuk kemudian dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap peningkatan efektivitas pembelajaran pada aspek hasil dan aspek proses, berdasarkan hasil pemahaman penulis terhadap pendapat para ahli tentang hal tersebut. 

BAB IV.  HASIL HASIL DAN DISKUSI HASIL

  1. Hasil-hasil Penelitian

Secara umum, angka efektivitas yang ditargetkan oleh peneliti pada siklus yang diberi perlakukan (siklus II dan siklus III) telah terpenuhi dengan baik.  Baik pada aspek proses maupun aspek hasil.   Berikut ini penulis sajikan rekapitulasi data hasil penelitian pada aspek proses dan aspek hasil yang penulis ambil pada tiap-tiap siklus:

Tabel.  Rekapitulasi Data Aspek HAsil dan Aspek Proses pada Siklus I, Siklus II dan Siklus III

 

Aspek Hasil

Aspek Proses

Rerata postes

Jumlah yang lulus KKM

Penilaian Guru

Penilaian Audien

Nilai Aspek Proses

Siklus I

66,00

45,71%

69,56%

-

69,56%

Siklus II

81,70

77,14%

80,43%

84,15%

82,29%

Siklus III

86,50

88,57%

91,30%

89,69%

90,49%

 

  1. Diskusi Hasil Kajian

Pada siklus I, nilai aspek proses sebasar 69,56% dan aspek hasil sebesar 45,71%.  Ini menunjukan bahwa proses pembelajaran yang terjadi pasa siklus I belum efektif. Karena belum memenuhi target yang ditetapkan oleh penulis.  Dimana efektivitas pada aspek proses dikatakan efektif apabila hasil penilaian proses mencapai skore 80% atau lebih dan aspek hasil telah mencapai 75% dari seluruh peserta didik telah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).  Hal ini terjadi karena:

  1. Kelompok penyaji tidak diberi panduan kerja

Mereka bekerja tanpa panduan, sehingga materi yang disampaikan terkadang tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran yang direncanakan oleh guru dalam RPP.

  1. Kelompok penyaji belum memahami tehnik presentasi

Tampilan slide show yang buruk membuat perhatian audien terpecah.  Hal ini dapat mengurangi konsentari mereka untuk mengikuti pembelajaran, sehingga daya serap mereka terhadap materi pelajaran menjadi berkurang.

  1. Kelompok audien tidak mempunyai panduan untuk belajar

Tidak adanya panduan bagi audien membuat mereka tidak memahami apa sesungguhnya yang diinginkan oleh guru dan materi apa saja yang seharusnya mereka kuasai.  Mereka hanya bertindak sebagai pendengar yang akan membuat mereka merasa jenuh.

Pada siklus II,  nilai aspek proses sebasar 82,29% dan aspek hasil sebesar 77,14%.  Ini berarti bahwa bahwa pemberian lembar analisis materi pada diskusi presentasi pembelajaran yang terjadi pasa siklus II ini telah efektif.  Karena telah memenuhi target yang ditetapkan oleh penulis.  Hal ini disebabkan:

  1. Kelompok penyaji memiliki kartu standar materi

Pemberian kartu standar pada penyaji membuat mereka bekerja sesuai dengan perintah yang ada pada kartu tersebut.  Sehingga meteri yang ditampilkanpun sesuai dengan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai.

  1. Kelompok penyaji telah mempelajari tehnik presentasi

Presentasi yang baik dapat meningkatkan perhatian (atensi) audien untuk mengikuti pembelajaran secara antusias, yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya serap peserta didik terhadap materi yang sedang dipelajari.

  1. Audien memiliki lembar evaluasi materi

Lembar evaluasi materi dibuat untuk memusatkan perhatian audien ketika mengikuti pembelajaran dan membantu mereka untuk memahami penjelasan kelompok penyaji dengan cara membandingkan materi yang disampaikan oleh kelompok penyaji dengan materi yang ada pada lembar evaluasi meteri tersebut.

Pada siklus III,  nilai Pada aspek proses 90,49% dan aspek hasil 88,57%.  Ini berarti bahwa pemberian lembar analisis materi pada pada siklus III ini pun telah efektif, bahkan lebih tinggi bila dibandingkan dengan siklus II.   Adanya peningkatan ini menurut hasil diskusi antara penulis dan teman sejawat, baik guru biologi maupun guru dari mata pelajaran lain adalah akibat adanya penambahan gambar pada lembar evaluasi materi yang diberikan kepada audien.  Adanya penambahan gambar ini memberikan keuntungan bagi kelompok penyaji maupun audien.  Sehingga pembelajaran lebih efektif.

  • Keuntungan bagi kelompok penyaji

Adanya gambar pada lembar evaluasi materi yang dimiliki oleh kelompok audien semakin memberikan motivasi bagi kelompok penyaji untuk mempelajari gambar-gambar yang berkaitan dengan materi yang akan mereka presentasikan.  Hal ini akan berdampak positif bagi kelompok penyaji itu sendiri, mereka berusaha mencari jawaban atas kemungkinan pertanyaan yang akan diajukan oleh kelompok audien.  Dengan demikian selain mereka lebih siap dalam penyampaian materi, mereka ternya telah mengusasi materi tersebut. 

Upaya mereka untuk mengkaitkan antara uraian kata-kata dengan gambar yang mereka pelajari sebenarnya merupakan proses asimilasi dan akomodasi yang dapat membangun konstruksi pengetahuan, yang dilakukan oleh area asosiasi yang ada pada kortek serebral otak besar mereka.  Konstruksi pengetahuan yang kokoh dalam ingatan akan memberikan kemudahan bagi dirinya untuk mengekplor pengetahuan tersebut apabila diinginkan.  Hal ini sebagai mana dikatakan oleh ahli bahwa, “ Semakin sering siswa membentuk kesalingterkaitan dalam sebuah materi yang mereka pelajari-dengan kata lain, semakin baik mereka mengorganisasikannya-semakin mudah mereka untuk dapat mengingat dan menerapkannya dikemudian hari”.  (LM Anderson 1993; Bedard & Chi, 1992; J.J White & Rumsey, 1994.  Dalam bukunya….

  • Keuntungan bagi audien

Sementara itu bagi audien pemberian gambar pada lembar evaluasi materi dapat membantu mereka untuk memahami penjelasan yang disampaikan oleh kelompok penyaji.   Dengan kata lain berarti audien tidak hanya menerima informasi secara verbal saja dari kelompok penyaji, melainkan juga secara visual. 

Ketika audien mengamati secara teliti mengenai gambar-gambar yang ditayangkan oleh kelompok penyaji dan gambar yang diberikan oleh guru pada lembar evaluasi materi, sebenarnya mereka sedang mengasimilasi apakah gambar-gambar tersebut memiliki kesesuaian atau tidak.  Disinilah terjadi pengulangan informasi yang sangat penting bagi mereka untuk proses mengingatnya.  Seandainya kedua gambar tersebut mengalami perbedaan yang terlalu jauh, maka ini akan menimbulkan ketidak sesuaian pada pikirannya, sehingga mereka merasa tidak nyaman dan akhirnya mereka memutuskan untuk bertanya kepada kelompok penyaji. 

Jawaban atas pertanyaan yang diberikan oleh kelompok penyaji akan menjadi sebuah informasi bagi tiap individu audien.  Jika informasi yang diberikan itu merupakan informasi yang bersifat baru, maka komponen kognitif mereka segera melakukan pemrosesan informasi tersebut menjadi sebuah ingatan.  Tetapi jika informasi tersebut telah mereka miliki maka berarti  mereka sedang melakukan pengulangan informasi.  Dimana kita ketahui bahwa pengulangan dapat membantu kita untuk mempertahankan ingatan yang telah kita miliki dan memudahkan bagi kita untuk memanggil ingatan tersebut.  Hal ini sebagaimana dikatakan oleh J.R. Anderson, 1983; P.W. Cheng, 1985; Proctor & Dutta, 1995 yang dikutip oleh Jeanne Ellis Ormrod (2008:304), “Ketika pembelajar terus melatih hal-hal yang telah mereka kuasai, mereka pada akhirnya mencapai otomatisasi. Dimana mereka dapat memanggil kembali apa yang telah mereka pelajari secara cepat dan tanpa upaya dan dapat menggunakannya nyaris tanpa berpikir”.  

Inilah hasil diskusi yang dapat penulis sampaikan sebagai penjelasan bagaimana efektivitas lembar analisis materi pada diskusi presentasi, dapat meningkatkan proses pembelajaran baik pada aspek proses maupun aspek hasil yang  terjadi pada siklus III.

BAB V.  SIMPULAN DAN SARAN

  1. Simpulan
  2. Hasil penilaian proses yang diperoleh pada siklus II dan siklus III adalah; pada siklus II sebesar 82,29% dan pada siklus III adalah sebesar 90,49%.  Target efektivitas pembelajaran pada aspek proses adalah sebesar 80%.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan efektivitas pembelajaran biologi pada aspek proses dengan metode diskusi presentasi yang menggunakan lembar analisis materi,  dikelas XI  MIA 3.
  3. Hasil penilaian postes yang diperoleh dari sikus II dan siklus III adalah; pada siklus II terdapat 77,14% peserta didik yang telah mencapai nilai KKM dan siklus III terdapat 88,57% peserta didik yang telah mencapai KKM. Target efektivitas pembelajaran pada aspek hasil adalah sebesar 75%.  Dengan dapat disimpulkan bahwa ada peningkatan efektivitas pembelajaran biologi pada aspek hasil dengan metode diskusi presentasi yang menggunakan lembar analisis materi,  dikelas XI  MIA 3.
  4. Saran-saran
  5. Metode diskusi presentasi merupakan salah satu metode pembelajaran yang banyak digunakan oleh para pendidik (guru) untuk menyampaikan materi pembelajarannya, maka penulis menyarankan agar para pendidik tersebut juga menggunakan lembar analisis materi sebagaimana penulis lakukan pada penelitian tindakan kelas ini. Hal ini penulis katakan setelah penulis melihat adanya peningkatan yang sangat berarti pada hasil pembelajaran yang penulis lakukan.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Ahmadi, Abu dan Rohadi, Ahmad. 2006. Pengelolaan Kelas. Bandung: Pustaka Setia.
  2. Modjiono dan Dimyati. 1992. Strategi Belajar Mengajar.    Depdikbud
  3. Riduan, 2004. Metode dan Tehnik Menyusun Tesis.    Alfabeta.
  4. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung: Mandar Madju.
  5. Irnaningtyas, 2014. Biologi untuk SMA/MA kelas XI.    Erlangga
  6. blogspot.com/2013/06/metode-diskusi.html
  7. Trianto, M.Pd (2010). Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik.  Prestasi Pustakaraya - Jakarta.
  8. http://digilib.ump.ac.id/files/disk1/8/jhptump-a-ekoriskiya-400-2-babii.pdf
  9. http://lenterakecil.com/pengertian-lembar-kerja-siswa-lks/17Mei2012
  10. http://www.kajianpustaka.com/2013/01/metode-diskusi-dalam-belajar.html

                                 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :

Pengirim : GuestDrony -  [samburton@aol.co.uk]  Tanggal : 24/03/2016
guest test post
<a href="http://google.tn/">bbcode</a>
<a href="http://google.tn/">html</a>
http://google.tn/ simple


   Kembali ke Atas